Langsung ke konten utama

Unggulan

Lukisan yang Bicara

  Lukisan yang Bicara @alimmhmmdd *** di kanvas sunyi kuhamparkan aksa, jejak langkah dari luka yang tak bersuara, warna-warna bukan sekadar rupa, tapi gema dari jiwa yang belajar percaya. kehidupan kini tak lagi serupa kabut, meski badai masih mengetuk palung kalbu, aku temukan lentera di balik ribut, pada diam yang kini tak lagi semu. kutanggalkan rencana yang mengurung dada, tak lagi kubiarkan omongan jadi nadi, aku, sebuah puisi yang sedang mengeja makna, berlari pelan menuju versi diri yang hakiki. bila masalah datang mengetuk lara, aku tak lagi mencari pintu besar nan megah, tapi celah sempit yang dipahat oleh asa, jalan keluar yang kulukis dari resah jadi megah. ***

Aku Harus Bisa dan Aku Pasti Bisa

Aku Harus Bisa dan Aku Pasti Bisa

Surabaya 27/01/23 13:38 WIB


sumber : pinterest.com

Di suatu pagi, di mana semua harapan muncul tatkala diri ini bangun dari mimpi. Semburat sinar fajar di ufuk timur menerobos masuk melalui celah jendela lengkap dengan irama ayam berkokok. Suara lembut yang membisik di telingaku, lengkap dengan usapan lembut di pipi layaknya usapan malaikat.

“Nak, bangun. Udah jam 6, waktunya kamu sekolah.” ucap orang itu dengan lembut.

Aku tau siapa dia, kemudian perlahan mataku terbuka meskipun sedikit sepet.

“Huaaa” mulutku menguap, seraya duduk dari alas tidur.

“Langsung mandi dan sarapan” ucapnya sembari merapikan tikar, alas tidurku.

“Inggih mak” (iya bu, dalam bahasa jawa).

Aku ngadeg terus mlaku nang mburi omah, pe adus ing jedheng (aku berdiri kemudian berjalan ke belakang, mau mandi di kamar mandi)

Byur byur byur, terasa dingin sekali airnya.

“Hmm, dingin banget ni air” ucapku seraya mengusapkan sabun keseluruh badan.

Karena ini pedesaan, masih asri dengan persawahan dan perkebunan, jadi wajar kalau airnya dingin, ditambah dengan musim bediding (istilah dalam bahasa jawa saat pergantian musim kemarau ke musim hujan. Saat itu cuaca sangat dingin apalagi saat pagi hari, air serasa air es, biasanya di sebut juga musim mangga berbunga, karena pada musim tersebut, pohon mangga mulai berbunga).

Byurr, byurr,

Tak lama, hanya sekitar 15 menit aku selesai mandi.

Tiba-tiba,

“Mak, mak, mak” teriakku.

Tidak ada jawaban, ku panggil sekali lagi dengan lantang.

“Mak, emakk.”

Masih tidak ada jawaban, terpaksa aku mlayu(berlari) ke kamar, karena baru sadar aku tidak bawa sarung (biasanya handu).

Sesampainya di kamar, aku langsung pakai seragam sekolah, saat ini waktunya biru-putih. Seragam khas Sekolah Menengah Tinggi (SMA).

“Akbar, sarapan nak” panggil mak ku dari ruang tengah.

“Inggih mak, bentar lagi” jawabku(inggih = iya).

Seragam lengkap sudah tertata rapi di badanku, kemudian aku mengambil piring dan nasi di atas meja makan. Tempat nasi masih dari bambu bukan magiccom, karena ini masih pedesaan jadi masih jarang orang yang menggunakan alat modern. Tak lupa juga aku mengambil lauk, tempe goreng dan sayur tumis kangkung.

Aku berjalan ke pintu samping rumah, duduk di tengah pintu, sambil memandang kebun rindang samping rumah. Terlihat juga malaikatku sedang memanen cabai dan tomat. Itulah emak yang selalu menyayangiku dari kecil, karena ibuku sudah wafat sejak aku masih berumur 2 tahun. Ayahku nikah lagi dan pergi ntah kemana, meninggalkanku di desa bersama emak dan bapak yang sudah rentan. Mereka adalah kakak dari ibuku, mereka tidak punya anak sehingga menganggapku sebagai anaknya sendiri. Tapi aku tetap bersyukur dan bangga punya mereka karena mereka membesarkanku dengan susah payah dan penuh kasih sayang. Jadi meskipun aku tidak punya orang tua namun aku tetap mendapatkan kasih sayang layaknya dari orang tua. Aku berjanji akan membanggakan mereka suatu saat nanti.

“Bar, katanya nanti ada ujian ya?” tanya emak.

“Mboten ujian mak(bukan ujian mak), tapi tes masuk perguruan tinggi” jawabku.

Saat ini aku duduk dibangku akhir SMA tepat kelas 12, dan mendaftar PTN (Perguruan Tinggi Negeri) impianku untuk lanjut ke tahap pendidikan yang lebih tinggi.

“Perguruan tinggi itu apa bar?”

“Buat masuk kuliah mak, Akbar pengen lanjut kuliah ke kota”

Mendengar hal itu, mak mendekat kearahku dan duduk disampingku, seraya berkata

“Tapi emak sama bapak tidak punya uang Bar, untuk kuliahin kamu” ucapnya sedih.

“Tidak apa-apa mak, Akbar berusaha supaya dapat beasiswa dan bisa berkuliah, supaya nanti Akbar bisa membanggakan emak dan bapak” jawabku sembari meyakinkan emak.

Mak menangis sembari memelukku,

“Ya Allah, bismillah semoga Allah mengabulkan ya nak, maafkan emak dan bapak karena tidak punya uang lebih untuk bisa memenuhi semua kebutuhanmu”

“Akbar cuma minta do’a restu mak sama bapak, doakan agar dapat beasiswa, nanti akbar sambil kerja” ucapku sambil bergetar di pelukan emak. Tak sadar air mataku ikut meluruh deras.

“Iya Bar, aamiin. Nanti jangan lupakan emak sama bapak ya nak, kalau nanti kamu sudah sukses” ucap emak.

“Iya mak, Akbar janji akan sering pulang jenguk mak sama bapak”

Kemudian emak melepaskan pelukannya dan aku melanjutkan sarapan.

“Kalau sudah makan, nanti kamu berangkat sekolah ya, bapak sudah ada di warung, nanti temui bapakmu” ucap emak sembari berjalan ke dalam rumah.

“Inggih mak”(iya mak).

Selesai makan, aku siap-siap berangkat sekolah, dan tak lupa berpamitan ke emak.

“Mak, Akbar berangkat dulu ya, doain akbar nanti berhasil lulus tesnya dan dapat beasiswa” ucapku seraya mengecup tangan emak.

“Inggih Bar, aamiin. Hati-hati di jalan” jawabnya. Terlihat senyum cerah diwajahnya, garis-garis keriput juga nampak di wajah yang cukup rentan itu. Aku tersenyum sendu melihat wajah itu.

“Assalamualaikum”.

“Waalaikumsalam”.

Aku mulai berjalan meninggalkan rumah kecil dari bambu di ujung desa itu, berjalan ke ujung desa yang lain tepatnya ke warung kopi, di sana ada bapak sedang menungguku. Aku berjalan melewati jalan setapak desa, debelah kanan kiri ada persawahan dan kebun. Tak lupa juga menyapa beberapa orang yang lalu lalang di jalan.

Tak butuh waktu lama, kira-kira 15 menit. Akhirnya aku sampai di warung kopi kecil itu. Di sana ada banyak bapak-bapak dan ada juga yang masih muda.

“Assalamualaikum pak”

“Waalaikumsalam, sampun maem ta sampeyan?”(sudah sarapan ta kamu?) tanya bapak

“Mpun pak”(sudah pak).

“Lungguh o nang kunu sampeyan, ngko bee onk wong lungo kerjo”(duduk di situ kamu, kali aja ada orang berangkat kerja) ucap bapak sambil nunjuk ketempat duduk diluar warung.

Sudah menjadi rutinitas setiap berangkat sekolah, karena aku belum punya motor dan jarak sekolahku pun jauh, jadi aku numpang orang berangkat kerja, itupun kalau ada, kalau tidak ada terpaksa jalan kaki dan pasti telat sekolah. Hmm nasib-nasib.

Kira-kira 15 menit menunggu, ada mas-mas berhenti dan memberiku tumpangan.

“Alhamdulilah” gumamku dalam hati.

“Ayo bar, berangkat bareng” ucapnya.

“Iya mas, terima kasih.” Ucapku sembari tersenyum kearahnya.

Sebelum berangkat, aku berjalan kearah bapak untuk berpamitan.

“Pak, Akbar pamit, mau berangkat sekolah dulu” ucapku sembari mencium tangan bapak.

“Inggih nak, ati-ati”(iya nak, hati-hati).

Motor yang aku tumpangi melaju lumayan cepat, dan tak butuh waktu lama kira-kira 15 menit aku sampai di depan gerbang sekolah.

“Terima kasih mas”

“Yoi, sama-sama” jawabnya

Kemudian, aku berjalan melalui koridor sekolah sembari mencari ruangan tes itu.

5 menit berlalu, akhirnya aku menemukan juga ruangan kelasku. Sekolahku yang cukup favorit, meskipun swasta tapi prestasi siswanya tidak dapat diremehkan, bisa bersaing dengan sekolah negeri. Sekolahku diberikan tanggung jawab oleh pemerintah untuk menjadi salah satu sekolah yang mengadakan tes masuk Perguruan Tinggi Negeri.

Rasa deg-deg an kini menyerangku. Hmm jantungku tidak aman, saat aku mulai masuk ruangan tes itu. Tak disangka ada sesosok guru yang sangat aku kenal.

“Wah Akbar, murid kesayangan Ibu, yang pinter dan ganteng. Udah siapkan tes hari ini?” tanya bu Mela, bu guru yang selalu mensuportku hingga aku punya keberanian untuk ikut tes beasiswa masuk Perguruan Tinggi Negeri ini, karena dulu mengikuti tes ini adalah sebuah mimpi belaka yang aku kira tidak akan pernah tercapai, tapi ternyata Tuhan berkata lain dan aku bisa mengikuti tes ini, meskipun ada sedikit keraguan dalam hati karena aku sadar keluargaku tergolong tidak mampu.

“Insyaallah siap, do’akan bu bisa lulus beasiswa ini. Terima kasih karena sudah membantu saya selama ini saat sekolah, terima kasih sudah membayar biaya tes ini bu” ucapku sambil menunduk sopan.

“Iya nak ganteng, sama-sama. Jangan mikir begitu, yang penting kamu fokus ngerjain soal, biar lulus dan dapat beasiswa” ucapnya sembari tersenyum.

Dalam senyuman itu, menyimpan satu harapan besar terhadapku dan aku tidak boleh mengecewakan itu.

Lalu aku duduk di tempat sesuai nomor tesku, di sampingku juga ada Alif, Ani, Zamrut. Mereka teman-teman yang juga sangat mendukungku.

“Thanks kawan” ucapku dalam hati, sembari melihat mereka yang juga menebar semangat kepadaku.

“Bismillahirrahmanirrahim, Ya Allah bila ini rizki yang engkau berikan padaku, hamba mohon mudahkanlah dalam mengerjakan soal ini. Aamiin”. Ucapku dengan yakin.

4 jam berlalu, dan akhirnya tes itupun berakhir.

”Alhamdulillah”dalam hatiku berucap, sembari tersenyum.

******

sumber: pinterest.com


Beberapa hari kemudian, setelah tes itu berlangsung.

Tibalah waktu yang menegangkan, karena itu mencangkup masa depanku. Ya, benar. Hari ini pengumuman kelulusan tes Perguruan Tinggi Negeri yang aku ikuti beberapa hari yang lalu.

Kaki ini melangkah gusar menuju tepian lapangan, tempat diumumkannya siapa yang berhasil masuk Perguruan Tinggi Negeri Favorit. Aku melangkah dengan keraguan menuju papan pengumuman itu, hati ini berkata “lulus gk ya kira-kira, kan PTN yang aku pilih terbaik di kota, juga jurusan yang aku pilih tergolong jurusan berpeluang kecil masuknya, hmm” Aku takut ekpekstasiku menjadikanku down, karena gagal.

Tibalah aku di depan papan pengumuman itu, rupanya di situ banyak murid lain yang berebut ngin melihat apakah nama mereka ada di situ. Aku berdiri diam ditengah keramaian itu, “mungkin aku nunggu sampai sepi aja kali ya, baru lihat pengu.....” belum selesai aku bergumam, tiba-tiba ada seseorang yang memelukku muncul dari keramaian itu, dan aku tau siapa itu.

“Alhamdulillah Bar, Aku lulus di PTN impianku Alhamdulillah” Ucap Alif, teman sebangkuku di kelas sembari meneteskan air mata haru, lalu ia melepas pelukan dan pergi menemui temannya yang lain, meninggalkanku dengan hati gusar, lalu

“Akbarrr, barrr, Alhamdulillah kita berdua lulus di PTN yang sama dan kamu juga lulus dapat beasiswa” Dia Ani, teman ambisku, dia berteriak di depan wajahku yang diam seperti patung tak percaya, kemudian dia menarik lenganku menerobos kerumunan dan melihat di papan pengumuman.

Benar saja, namaku ada di urutan pertama dengan nilai tertinggi, lulus PTN favorit dengan beasiswa, aku pun tak kuat menahan tangis, akhirnya air mata yang sedari tadi berkumpul di titik yang sama jatuh dengan derasnya, reflek akupun memeluk Ani dengan kuat, tapi tak berselang lama, karena takut dia baper.hehe nggk nggk, tapi malu diliat banyak orang.

“Alhamdulillah ya Allah, akhirnya bisa mewujudkan salah satu mimpiku” Ucapku sembari mengusap air mata yang jatuh di sela-sela pipi. Kemudian, aku pun berlari dengan kencang keluar halaman sekolah mengabaikan panggilan teman-teman dan para guru. Aku berjalan cepat menuju rumah emak dan bapak, ingin berbagi kebahagiaan dengan mereka karena aku lulus tes itu dan dapat beasiswa. Akupun tak sabar, ingin melihat emak dan bapak senang sambil memeluk mereka.

Tibalah aku sampai di depan rumah, tapi betapa terkejutnya aku saat banyak sekali orang di rumahku.

“Ada syukuran kah? hmm mungkin syukuran karena aku lulus, tapi kan mereka belum aku beritahu. Aneh” tiba-tiba ada seseorang yang menarik lenganku, memaksa untuk masuk ke rumah.

“Ini ada apa mas? kok rame banget” tanyaku pada orang itu tapi dia tidak menjawab dan terus menarikku ke dalam rumah, dan tibalah kita diruang tamu.

Tapi rupanya,

“Hah, astaghfirullahaladzim” seketika tubuhku terasa mati tak bernyawa, seakan-akan ditimpa ribuan besi ketubuh ini. Refleks aku bertanya pada orang-orang di sekeliling, tapi mereka hanya diam dan menangis, tak ada satupun yang menjawab, hingga

“Emak sampeyean sampun tilang dunyo nak Akbar”(Emak kamu sudah meninggal dunia nak Akbar). Dia memelukku. Ya, itu adalah bapak, dia berkata seperti itu sembari menangis dan akupun menjerit dengan lantang tak tahu malu.

“Enggak enggak ini nggak mungkin, nggak mungkin emak meninggal, hiks hiks” kataku menjerit sembari memeluk orang yang terbujur kaku di ruang tamu tersebut, yang sudah dibalut dengan kain kafan putih.

“Enggak mak, bangun mak, ini Akbar, mak bangun. Akbar lulus tes itu mak, akbar dapat beasiswa mak bangunn.”

“Makkk, bangunn, hiks hiks hiks” teriakku sembari menangis dengan kencang. Kurasa suaraku sampai ke penjuru rumah. Mereka yang memperhatikanku seakan diam membisu, melihat dengan sedih mengenai keadaanku. Bagaimana tidak, aku baru aja pulang dari sekolah dengan membawa kabar gembira, eh rupanya di rumah dihadapkan dengan kabar buruk bahkan kabar yang seakan membunuhku.

Lalu bapak menarik lenganku tetapi aku memaksa tidak mau jauh dari emak, tapi orang-orang sekitar membantu untuk menarikku menjauh, karena jenazah emak akan segera dibawa ke masjid untuk di sholatkan dan dimakamkam. “Hiks hiks enggak pak, aku nggak mau kehilangan emak hiks hiks” Keadaanku yang sudah lemas, seakan aku pasrah di tarik orang untuk menjauh. Tubuhku seakan tak bernyawa, dan masih keadaan syok jika hal ini bukan bercanda.

“Lailahaillallah, lailahaillallah, lailahaillallah” suara dari mereka yang bergantian membawa keranda jenazah emak.

Aku mengikutinya dari belakang bersama bapak, dan masih tidak percaya kalau takdir begitu cepat. Pagi tadi sebelum berangkat sekolah emak baik-baik aja, tapi kenapa sekarang emak sudah gaada.

“Bar, semoga kamu lulus ya nak” ucap emak sambil tersenyum.

“Aamiin mak, semoga lulus ya mak Akbar. Nanti kalau Akbar lulus, langsung pulang kerumah dan memeluk emak dan bapak hehe” ucapku optimis.

“Nanti kalau kamu lulus dan sudah berkuliah, jangan lupa pulang ya nak. Jangan lupakan emak bapak di kampung, jaga kesehatan dan jangan lupa sholat. Jadi anak yang berbakti buat orang tua, agama, nusa dan bangsa” Amanah emak.

“Inggih mak”(iya mak) jawabku sambil memeluk beliau.

Percakapan itu, masih tadi pagi terucap. Rupanya itu pesan terakhir emak untukku.

Setelah jenazah emak sudah dikebumikan, aku dan bapak masih berdiam tempat di samping makam emak.

“Mak, insyaallah Akbar sudah mengikhlaskan emak. Semoga emak tenang di surga ya mak. Mak, Akbar lulus tes itu dengan nilai tertinggi, semoga itu bisa menjadikan Akbar kelak orang sukses yang bisa membahagiakan emak dan bapak. Aamiin” ucapku sembari memeluk bapak.

“Mak, Akbar pamit ya mak. Semoga kita bisa berkumpul lagi di surga kelak”

“Assalamu’alaikum Emaknya Akbar” Aku dan bapak berjalan pulang. Meninggalkan emak di rumah abadinya dengan membawa doa serta restu emak.

- end -

***


Komentar

Postingan Populer