Unggulan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Aku Harus Bisa dan Aku Pasti Bisa
Aku Harus Bisa dan Aku Pasti Bisa
Surabaya 27/01/23 13:38 WIB
![]() |
| sumber : pinterest.com |
“Nak, bangun. Udah jam 6, waktunya kamu sekolah.” ucap
orang itu dengan lembut.
Aku tau siapa dia, kemudian perlahan mataku terbuka
meskipun sedikit sepet.
“Huaaa” mulutku menguap, seraya duduk dari alas tidur.
“Langsung mandi dan sarapan” ucapnya sembari merapikan
tikar, alas tidurku.
“Inggih mak” (iya
bu, dalam bahasa jawa).
Aku ngadeg terus mlaku nang mburi omah, pe adus ing jedheng
(aku berdiri kemudian berjalan ke
belakang, mau mandi di kamar mandi)
Byur byur byur, terasa dingin sekali airnya.
“Hmm, dingin banget ni air” ucapku seraya mengusapkan
sabun keseluruh badan.
Karena ini pedesaan, masih asri dengan persawahan dan
perkebunan, jadi wajar kalau airnya dingin, ditambah dengan musim bediding (istilah dalam bahasa jawa saat
pergantian musim kemarau ke musim hujan. Saat itu cuaca sangat dingin apalagi
saat pagi hari, air serasa air es, biasanya di sebut juga musim mangga
berbunga, karena pada musim tersebut, pohon mangga mulai berbunga).
Byurr, byurr,
Tak lama, hanya sekitar 15 menit aku selesai mandi.
Tiba-tiba,
“Mak, mak, mak” teriakku.
Tidak ada jawaban, ku panggil sekali lagi dengan lantang.
“Mak, emakk.”
Masih tidak ada jawaban, terpaksa aku mlayu(berlari) ke kamar, karena baru sadar
aku tidak bawa sarung (biasanya handu).
Sesampainya di kamar, aku langsung pakai seragam sekolah,
saat ini waktunya biru-putih. Seragam khas Sekolah Menengah Tinggi (SMA).
“Akbar, sarapan nak” panggil mak ku dari ruang tengah.
“Inggih mak, bentar lagi” jawabku(inggih = iya).
Seragam lengkap sudah tertata rapi di badanku, kemudian
aku mengambil piring dan nasi di atas meja makan. Tempat nasi masih dari bambu
bukan magiccom, karena ini masih pedesaan jadi masih jarang orang yang menggunakan
alat modern. Tak lupa juga aku mengambil lauk, tempe goreng dan sayur tumis
kangkung.
Aku berjalan ke pintu samping rumah, duduk di tengah
pintu, sambil memandang kebun rindang samping rumah. Terlihat juga malaikatku sedang
memanen cabai dan tomat. Itulah emak yang selalu menyayangiku dari kecil,
karena ibuku sudah wafat sejak aku masih berumur 2 tahun. Ayahku nikah lagi dan
pergi ntah kemana, meninggalkanku di desa bersama emak dan bapak yang sudah
rentan. Mereka adalah kakak dari ibuku, mereka tidak punya anak sehingga
menganggapku sebagai anaknya sendiri. Tapi aku tetap bersyukur dan bangga punya
mereka karena mereka membesarkanku dengan susah payah dan penuh kasih sayang. Jadi
meskipun aku tidak punya orang tua namun aku tetap mendapatkan kasih sayang
layaknya dari orang tua. Aku berjanji akan membanggakan mereka suatu saat
nanti.
“Bar, katanya nanti ada ujian ya?” tanya emak.
“Mboten ujian mak(bukan
ujian mak), tapi tes masuk perguruan tinggi” jawabku.
Saat ini aku duduk dibangku akhir SMA tepat kelas 12, dan
mendaftar PTN (Perguruan Tinggi Negeri) impianku untuk lanjut ke tahap
pendidikan yang lebih tinggi.
“Perguruan tinggi itu apa bar?”
“Buat masuk kuliah mak, Akbar pengen lanjut kuliah ke
kota”
Mendengar hal itu, mak mendekat kearahku dan duduk
disampingku, seraya berkata
“Tapi emak sama bapak tidak punya uang Bar, untuk
kuliahin kamu” ucapnya sedih.
“Tidak apa-apa mak, Akbar berusaha supaya dapat beasiswa
dan bisa berkuliah, supaya nanti Akbar bisa membanggakan emak dan bapak”
jawabku sembari meyakinkan emak.
Mak menangis sembari memelukku,
“Ya Allah, bismillah semoga Allah mengabulkan ya nak,
maafkan emak dan bapak karena tidak punya uang lebih untuk bisa memenuhi semua
kebutuhanmu”
“Akbar cuma minta do’a restu mak sama bapak, doakan agar
dapat beasiswa, nanti akbar sambil kerja” ucapku sambil bergetar di pelukan
emak. Tak sadar air mataku ikut meluruh deras.
“Iya Bar, aamiin. Nanti jangan lupakan emak sama bapak ya
nak, kalau nanti kamu sudah sukses” ucap emak.
“Iya mak, Akbar janji akan sering pulang jenguk mak sama
bapak”
Kemudian emak melepaskan pelukannya dan aku melanjutkan
sarapan.
“Kalau sudah makan, nanti kamu berangkat sekolah ya,
bapak sudah ada di warung, nanti temui bapakmu” ucap emak sembari berjalan ke
dalam rumah.
“Inggih mak”(iya
mak).
Selesai makan, aku siap-siap berangkat sekolah, dan tak
lupa berpamitan ke emak.
“Mak, Akbar berangkat dulu ya, doain akbar nanti berhasil
lulus tesnya dan dapat beasiswa” ucapku seraya mengecup tangan emak.
“Inggih Bar, aamiin. Hati-hati di jalan” jawabnya. Terlihat
senyum cerah diwajahnya, garis-garis keriput juga nampak di wajah yang cukup
rentan itu. Aku tersenyum sendu melihat wajah itu.
“Assalamualaikum”.
“Waalaikumsalam”.
Aku mulai berjalan meninggalkan rumah kecil dari bambu di
ujung desa itu, berjalan ke ujung desa yang lain tepatnya ke warung kopi, di
sana ada bapak sedang menungguku. Aku berjalan melewati jalan setapak desa,
debelah kanan kiri ada persawahan dan kebun. Tak lupa juga menyapa beberapa
orang yang lalu lalang di jalan.
Tak butuh waktu lama, kira-kira 15 menit. Akhirnya aku
sampai di warung kopi kecil itu. Di sana ada banyak bapak-bapak dan ada juga
yang masih muda.
“Assalamualaikum pak”
“Waalaikumsalam, sampun maem ta sampeyan?”(sudah sarapan ta kamu?) tanya bapak
“Mpun pak”(sudah
pak).
“Lungguh o nang kunu sampeyan, ngko bee onk wong lungo
kerjo”(duduk di situ kamu, kali aja ada
orang berangkat kerja) ucap bapak sambil nunjuk ketempat duduk diluar
warung.
Sudah menjadi rutinitas setiap berangkat sekolah, karena
aku belum punya motor dan jarak sekolahku pun jauh, jadi aku numpang orang
berangkat kerja, itupun kalau ada, kalau tidak ada terpaksa jalan kaki dan
pasti telat sekolah. Hmm nasib-nasib.
Kira-kira 15 menit menunggu, ada mas-mas berhenti dan
memberiku tumpangan.
“Alhamdulilah” gumamku dalam hati.
“Ayo bar, berangkat bareng” ucapnya.
“Iya mas, terima kasih.” Ucapku sembari tersenyum
kearahnya.
Sebelum berangkat, aku berjalan kearah bapak untuk
berpamitan.
“Pak, Akbar pamit, mau berangkat sekolah dulu” ucapku
sembari mencium tangan bapak.
“Inggih nak, ati-ati”(iya
nak, hati-hati).
Motor yang aku tumpangi melaju lumayan cepat, dan tak
butuh waktu lama kira-kira 15 menit aku sampai di depan gerbang sekolah.
“Terima kasih mas”
“Yoi, sama-sama” jawabnya
Kemudian, aku berjalan melalui koridor sekolah sembari
mencari ruangan tes itu.
5 menit berlalu, akhirnya aku menemukan juga ruangan
kelasku. Sekolahku yang cukup favorit, meskipun swasta tapi prestasi siswanya
tidak dapat diremehkan, bisa bersaing dengan sekolah negeri. Sekolahku diberikan
tanggung jawab oleh pemerintah untuk menjadi salah satu sekolah yang mengadakan
tes masuk Perguruan Tinggi Negeri.
Rasa deg-deg an kini menyerangku. Hmm jantungku tidak
aman, saat aku mulai masuk ruangan tes itu. Tak disangka ada sesosok guru yang
sangat aku kenal.
“Wah Akbar, murid kesayangan Ibu, yang pinter dan
ganteng. Udah siapkan tes hari ini?” tanya bu Mela, bu guru yang selalu
mensuportku hingga aku punya keberanian untuk ikut tes beasiswa masuk Perguruan
Tinggi Negeri ini, karena dulu mengikuti tes ini adalah sebuah mimpi belaka
yang aku kira tidak akan pernah tercapai, tapi ternyata Tuhan berkata lain dan
aku bisa mengikuti tes ini, meskipun ada sedikit keraguan dalam hati karena aku
sadar keluargaku tergolong tidak mampu.
“Insyaallah siap, do’akan bu bisa lulus beasiswa ini. Terima
kasih karena sudah membantu saya selama ini saat sekolah, terima kasih sudah
membayar biaya tes ini bu” ucapku sambil menunduk sopan.
“Iya nak ganteng, sama-sama. Jangan mikir begitu, yang
penting kamu fokus ngerjain soal, biar lulus dan dapat beasiswa” ucapnya
sembari tersenyum.
Dalam senyuman itu, menyimpan satu harapan besar
terhadapku dan aku tidak boleh mengecewakan itu.
Lalu aku duduk di tempat sesuai nomor tesku, di sampingku
juga ada Alif, Ani, Zamrut. Mereka teman-teman yang juga sangat mendukungku.
“Thanks kawan” ucapku dalam hati, sembari melihat mereka
yang juga menebar semangat kepadaku.
“Bismillahirrahmanirrahim, Ya Allah bila ini rizki yang
engkau berikan padaku, hamba mohon mudahkanlah dalam mengerjakan soal ini.
Aamiin”. Ucapku dengan yakin.
4 jam berlalu, dan akhirnya tes itupun berakhir.
”Alhamdulillah”dalam hatiku berucap, sembari tersenyum.
******
![]() |
| sumber: pinterest.com |
Beberapa hari kemudian, setelah tes itu berlangsung.
Tibalah waktu yang menegangkan, karena itu mencangkup masa depanku. Ya,
benar. Hari ini pengumuman kelulusan tes Perguruan Tinggi Negeri yang aku ikuti
beberapa hari yang lalu.
Kaki ini melangkah gusar menuju tepian lapangan, tempat diumumkannya siapa
yang berhasil masuk Perguruan Tinggi Negeri Favorit. Aku melangkah dengan
keraguan menuju papan pengumuman itu, hati ini berkata “lulus gk ya kira-kira,
kan PTN yang aku pilih terbaik di kota, juga jurusan yang aku pilih tergolong
jurusan berpeluang kecil masuknya, hmm” Aku takut ekpekstasiku menjadikanku
down, karena gagal.
Tibalah aku di depan papan pengumuman itu, rupanya di situ banyak murid
lain yang berebut ngin melihat apakah nama mereka ada di situ. Aku berdiri diam
ditengah keramaian itu, “mungkin aku nunggu sampai sepi aja kali ya, baru lihat
pengu.....” belum selesai aku bergumam, tiba-tiba ada seseorang yang memelukku
muncul dari keramaian itu, dan aku tau siapa itu.
“Alhamdulillah Bar, Aku lulus di PTN impianku Alhamdulillah” Ucap Alif,
teman sebangkuku di kelas sembari meneteskan air mata haru, lalu ia melepas
pelukan dan pergi menemui temannya yang lain, meninggalkanku dengan hati gusar,
lalu
“Akbarrr, barrr, Alhamdulillah kita berdua lulus di PTN yang sama dan kamu
juga lulus dapat beasiswa” Dia Ani, teman ambisku, dia berteriak di depan
wajahku yang diam seperti patung tak percaya, kemudian dia menarik lenganku
menerobos kerumunan dan melihat di papan pengumuman.
Benar saja, namaku ada di urutan pertama dengan nilai tertinggi, lulus PTN
favorit dengan beasiswa, aku pun tak kuat menahan tangis, akhirnya air mata
yang sedari tadi berkumpul di titik yang sama jatuh dengan derasnya, reflek
akupun memeluk Ani dengan kuat, tapi tak berselang lama, karena takut dia
baper.hehe nggk nggk, tapi malu diliat banyak orang.
“Alhamdulillah ya Allah, akhirnya bisa mewujudkan salah satu mimpiku”
Ucapku sembari mengusap air mata yang jatuh di sela-sela pipi. Kemudian, aku
pun berlari dengan kencang keluar halaman sekolah mengabaikan panggilan
teman-teman dan para guru. Aku berjalan cepat menuju rumah emak dan bapak,
ingin berbagi kebahagiaan dengan mereka karena aku lulus tes itu dan dapat
beasiswa. Akupun tak sabar, ingin melihat emak dan bapak senang sambil memeluk
mereka.
Tibalah aku sampai di depan rumah, tapi betapa terkejutnya aku saat banyak
sekali orang di rumahku.
“Ada syukuran kah? hmm mungkin syukuran karena aku lulus, tapi kan mereka
belum aku beritahu. Aneh” tiba-tiba ada seseorang yang menarik lenganku, memaksa
untuk masuk ke rumah.
“Ini ada apa mas? kok rame banget” tanyaku pada orang itu tapi dia tidak
menjawab dan terus menarikku ke dalam rumah, dan tibalah kita diruang tamu.
Tapi rupanya,
“Hah, astaghfirullahaladzim” seketika tubuhku terasa mati tak bernyawa,
seakan-akan ditimpa ribuan besi ketubuh ini. Refleks aku bertanya pada
orang-orang di sekeliling, tapi mereka hanya diam dan menangis, tak ada satupun
yang menjawab, hingga
“Emak sampeyean sampun tilang dunyo nak Akbar”(Emak kamu sudah meninggal
dunia nak Akbar). Dia memelukku. Ya, itu adalah bapak, dia berkata seperti itu
sembari menangis dan akupun menjerit dengan lantang tak tahu malu.
“Enggak enggak ini nggak mungkin, nggak mungkin emak meninggal, hiks hiks”
kataku menjerit sembari memeluk orang yang terbujur kaku di ruang tamu
tersebut, yang sudah dibalut dengan kain kafan putih.
“Enggak mak, bangun mak, ini Akbar, mak bangun. Akbar lulus tes itu mak,
akbar dapat beasiswa mak bangunn.”
“Makkk, bangunn, hiks hiks hiks” teriakku sembari menangis dengan kencang.
Kurasa suaraku sampai ke penjuru rumah. Mereka yang memperhatikanku seakan diam
membisu, melihat dengan sedih mengenai keadaanku. Bagaimana tidak, aku baru aja
pulang dari sekolah dengan membawa kabar gembira, eh rupanya di rumah
dihadapkan dengan kabar buruk bahkan kabar yang seakan membunuhku.
Lalu bapak menarik lenganku tetapi aku memaksa tidak mau jauh dari emak,
tapi orang-orang sekitar membantu untuk menarikku menjauh, karena jenazah emak
akan segera dibawa ke masjid untuk di sholatkan dan dimakamkam. “Hiks hiks
enggak pak, aku nggak mau kehilangan emak hiks hiks” Keadaanku yang sudah
lemas, seakan aku pasrah di tarik orang untuk menjauh. Tubuhku seakan tak
bernyawa, dan masih keadaan syok jika hal ini bukan bercanda.
“Lailahaillallah, lailahaillallah, lailahaillallah” suara dari mereka yang
bergantian membawa keranda jenazah emak.
Aku mengikutinya dari belakang bersama bapak, dan masih tidak percaya kalau
takdir begitu cepat. Pagi tadi sebelum berangkat sekolah emak baik-baik aja,
tapi kenapa sekarang emak sudah gaada.
“Bar, semoga kamu lulus ya nak” ucap emak sambil tersenyum.
“Aamiin mak, semoga lulus ya mak Akbar. Nanti kalau Akbar lulus, langsung
pulang kerumah dan memeluk emak dan bapak hehe” ucapku optimis.
“Nanti kalau kamu lulus dan sudah berkuliah, jangan lupa pulang ya nak.
Jangan lupakan emak bapak di kampung, jaga kesehatan dan jangan lupa sholat.
Jadi anak yang berbakti buat orang tua, agama, nusa dan bangsa” Amanah emak.
“Inggih mak”(iya mak) jawabku
sambil memeluk beliau.
Percakapan itu, masih tadi pagi terucap. Rupanya itu pesan terakhir emak
untukku.
Setelah jenazah emak sudah dikebumikan, aku dan bapak masih berdiam tempat
di samping makam emak.
“Mak, insyaallah Akbar sudah mengikhlaskan emak. Semoga emak tenang di
surga ya mak. Mak, Akbar lulus tes itu dengan nilai tertinggi, semoga itu bisa
menjadikan Akbar kelak orang sukses yang bisa membahagiakan emak dan bapak.
Aamiin” ucapku sembari memeluk bapak.
“Mak, Akbar pamit ya mak. Semoga kita bisa berkumpul lagi di surga kelak”
“Assalamu’alaikum Emaknya Akbar” Aku dan bapak berjalan pulang.
Meninggalkan emak di rumah abadinya dengan membawa doa serta restu emak.
- end -
***
Postingan Populer
Menyulam Nalar, Menganyam Kata - Cerpen
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya


Komentar
Posting Komentar