Langsung ke konten utama

Unggulan

Lukisan yang Bicara

  Lukisan yang Bicara @alimmhmmdd *** di kanvas sunyi kuhamparkan aksa, jejak langkah dari luka yang tak bersuara, warna-warna bukan sekadar rupa, tapi gema dari jiwa yang belajar percaya. kehidupan kini tak lagi serupa kabut, meski badai masih mengetuk palung kalbu, aku temukan lentera di balik ribut, pada diam yang kini tak lagi semu. kutanggalkan rencana yang mengurung dada, tak lagi kubiarkan omongan jadi nadi, aku, sebuah puisi yang sedang mengeja makna, berlari pelan menuju versi diri yang hakiki. bila masalah datang mengetuk lara, aku tak lagi mencari pintu besar nan megah, tapi celah sempit yang dipahat oleh asa, jalan keluar yang kulukis dari resah jadi megah. ***

Diamlah, Sebelum Gila

Diamlah, Sebelum Gila 

                          Surabaya 27/01/23 13:56 WIB 

sumber: pinterest.co

Ingatlah, Garis tangan tidak semuanya bisa kau genggam.

Takdir dan kehidupan hanyalah Tuhan yang menentukan.

Takdir Tuhan itu pasti, meski kau bisa memahat nasib.

Hanyalah ikhtiar dan do’a yang membuatmu keluar dari masalah.

Seringkali seseorang menitipkan kebahagiaannya pada orang lain.

Hingga suatu ketika, kebahagiaan itu sendiri yang menghancurkan.

Hancurnya jiwa dan raga tatkala seseorang hancur kerna ekpekstasi.


baca juga : Cerpen | Aku harus bisa dan Aku pasti bisa


Ada kalanya kita memberikan jeda antara dunia kita dengan dunia luar.

Cobalah istirahat sejenak dari bisingnya dunia dan bisikan orang.

Diamlah menyendiri atau berbaurlah di keramaian.

Sesekali lepaskan semuanya, beban, pikiran, bisikan orang, ekpekstasi langitmu.

“Apakah aku harus bodoamat? Ya. Sesekali dunia harus tau kalau kamu bisa bodoamat.”

Cobalah berbicara dengan diri sendiri, dan berterima kasihlah padanya.

Tentang semua yang sudah usang, sudah berlalu dan yang akan terjadi.

Tak lupa juga, bersujudlah kepada sang Pencipta.

Langitkan doamu serta tangisanmu.

Yakinlah jikalau Tuhan selalu ada untuk merangkulmu.

***


Komentar