Langsung ke konten utama

Unggulan

Lukisan yang Bicara

  Lukisan yang Bicara @alimmhmmdd *** di kanvas sunyi kuhamparkan aksa, jejak langkah dari luka yang tak bersuara, warna-warna bukan sekadar rupa, tapi gema dari jiwa yang belajar percaya. kehidupan kini tak lagi serupa kabut, meski badai masih mengetuk palung kalbu, aku temukan lentera di balik ribut, pada diam yang kini tak lagi semu. kutanggalkan rencana yang mengurung dada, tak lagi kubiarkan omongan jadi nadi, aku, sebuah puisi yang sedang mengeja makna, berlari pelan menuju versi diri yang hakiki. bila masalah datang mengetuk lara, aku tak lagi mencari pintu besar nan megah, tapi celah sempit yang dipahat oleh asa, jalan keluar yang kulukis dari resah jadi megah. ***

cerpen | RAMADHANKU KEMBALI BERSINAR

RAMADHANKU KEMBALI BERSINAR

Surabaya 07/01/23 20.38 WIB


sumber: pinterest.com

***

       Di tengah malam yang gelap dan sunyi, melewati jendela kamar, kulihat langit malam yang gelap, tak terlihat rembulan bersinar, mungkin bersembunyi dibalik awan mendung. Semilir angin malam yang dingin, menusuk pori-pori kulitku, begitu juga para bintang, tak ada satupun kilau bintang yang menyiratkan seberkas sinar pada bumi, "Oh tidak, ternyata ada sebuah bintang kecil yang berusaha bebas dari awan gelap yang merangkulnya. Cahaya itu, gemerlap terang bagaikan lentera kecil yang berusaha menerangi sekitar, mewakili akan isi hatiku saat ini". Semilir angin telah menyapaku, menerobos masuk menyapu wajahku, hingga ku tersadar dari lamunan gelapku. Aku sendiri disini, hanya ada cahaya malam yang gelap. Sesekali ada kelelawar melintas tepat dihadapan wajahku. Tengah malam pun tiba, dan lamunan itu kembali datang mengusik pikiranku. "Ramadhan kali ini sungguh berbeda dengan tahun sebelumnya". Ku berbicara sendiri dengan bayanganku. "Tak ada penyambutan kedatangannya, hanya disambut dengan keramaian kota dan dunia yang kejam dipenuhi masalah". Ucapku dalam hati.

      Kenangan itu selalu datang mengusikku, kala itu.......,

"Rizki, Ayo bangun, Teman-temanmu sudah menunggumu didepan rumah, ayo cepat bangun!" pinta lbu seraya membangunkanku. "Hah, jam berapa ini bu??" tanyaku. "Sudah jam 2 ini" ucap lbu padaku. "Ngapain sih bu, bangunin aku tengah malam gini?" tanyaku bingung. "Heh, kamu ini. Ini kan bulan Ramadhan, hari ini kan hari pertama puasa, kamu harus bangunin orang-orang untuk sahur, ayo cepat bangun. Teman-temanmu sudah menunggu didepan, ayo!" Suruh lbu sambil menggendongku ke kamar mandi. Saat itu, usiaku baru menginjak 8 tahun, yang artinya aku masih anak-anak yang masih polos.

     Byurr, byurr, byurr. "Aahh, Ibu.." teriakku. "Hehehe, maafkan ibu, lagian sih kamu nggak bangun-bangun!" jawab ibu sambil terkekeh senang melihat aku membuka mata. "Emang teman-temanku sudah memanggilku?" tanyaku pada ibu. "Sudah, itu ada didepan semua." jawab ibu. "Hah, udah didepan?" jawabku terkejut. "Mengapa ibu baru bangunin aku sekarang?" tanyaku pada ibu sambil memasang muka marah. "Lah, kok ibu yang disalahkan, ibu sudah bangunin kamu dari tadi, tapi kamunya aja yang nggak mau bangun." Tanpa basa-basi lagi, aku pun berlari ke kamar, padahal aku tak memakai handuk. "Eh, Rizki, pakai handuknya!" lbu hanya geleng geleng kepala melihat tingkahku.

***

     Tibalah saatnya aku keluar rumah dan ternyata benar, teman-temanku sudah menungguku di depan. "Hei, Rizki. Kamu kemana aja sih? Sudah jam segini baru muncul" ucap salah satu temanku. "Hehehe, maaf. Aku baru bangun, soalnya aku tidur terlalu malam" jawabku seraya terkekeh. "Udah, ayo cepat kita berangkat" suruh temanku. Akhirnya, kami pun berangkat keliling kampung sambil membuat bunyi yang berisik, sengaja hanya sekedar untuk membangunkan orang-orang untuk sahur dan menyambut dengan gembira awal bulan Ramadhan. "Sahuurr, sahuurr..." tak tik tok, dor dor dor.. "Sahuurr, sahuurr, sahuurr,.." kompak kami bersuara.

     Dibawah sinar rembulan yang terang, kami menyusuri jalan setapak di desa, hanya dengan membawa obor sebagai lampu penerang dan membawa peralatan seadanya, salah satu alatnya adalah kentongan yaitu alat musik pukul yang terbuat dari bambu dan dipukul, untuk membuat suara yang berisik, agar semua orang pada bangun untuk sahur. Sambil berjalan aku pun memandang langit yang cerah, disana nampak sebuah rembulan gompal yang berbentuk sabit telah menyinari langit malam yang gelap bagaikan tersenyum ikut menyambut awal bulan Romadhon ini, langit pun terlihat cerah, tak ada awan gelap yang terlihat, hanya ada ribuan bintang kecil yang bercahaya. "Mungkin langit, bersama bulan dan bintang pun ikut menyambut kedatangan tamu istimewa umat manusia dengan riang gembira yaitu bulan suci Ramadhan." pikirku sambil tersenyum memandangnya, "sungguh Ramadhan ini sangat istimewa" ucapku dalam hati. Kami pun berputar putar keliling kampung beberapa kali, "kok aku tidak merasa capek ya? Padahal aku sudah berjalan berkeliling desa beberapa kali, mungkin karena kebersamaan kita jadi tidak terasa lelahnya, kelelahan ini berganti menjadi kesenangan," pikirku. "Baiklah teman-teman, sudah waktunya kita pulang untuk sahur. Sudah cukup kita berputar untuk bangunin orang-orang sahur, dan sekarang giliran kita yang sahur.” kataku, ”iya nih, perutku sudah laper banget” kata salah satu temanku sambil menyeringai. “Ya sudah, Assalamu’alaikum" ucapku sambil melambaikan tangan. "Wa’alaikumussalam" jawab mereka kompak.

***

baca juga : Inspirasi | Seni Mencintai Diri Sendiri


    Sesampainya aku tiba tepat di depan pintu, Aku merasakan ada sesuatu yang langsung masuk  ke dalam hidungku. Ini bukan lalat ataupun hal lain. Melainkan aroma masakan yang sangat lezat dan menggoda bagi siapa saja yang mencium aromanya. Aku begitu kenal dengan siapa pembuat masakan ini, sampai-sampai kaki ku pun langsung melangkah masuk ke dalam rumah tanpa mengucap salam terlebih dahulu, dan benar saja ketika aku masuk ke dapur tepat di mana masakan itu telah dimasak. Aku melihat seorang yang sangat aku kenal, yang sangat berarti bagi kehidupanku, pahlawanku, dialah ibuku. Aku pun langsung menyalami tangannya dan mulai memuji masakan ibuku. Di situ juga ada ayah yang selalu menemaniku saat sahur, aku pun tak lupa menyalaminya juga. "Assalamu’alaikum," ucapku saat masuk dapur. "Wa’alaikumussalam" lantas ayah dan lbuku menjawabnya. "Wahh, kamu sudah pulang nak?" tanya ayah. "Iya yah, sudah saatnya aku sahur." jawabku sambil menyalami tangan ayah. "Wahh, sedap sekali aromanya. Masak apa bu?" tanyaku tidak sabaran, sambil mencium punggung tangan ibuku.

"Iya nih, ibu masakin makanan kesukaan kamu, ada nasi goreng sama telur goreng." jawab lbu dengan gembira menyambut kedatanganku. "Loh, Ayah sama lbu kok belum sahur?" tanyaku heran melihat masakan yang baru jadi. "Kita sengaja menunggu kamu, anak ayah yang paling ganteng, pintar lagi" jawab ayah sambil mengelus rambutku. "Iya, kan kita satu keluarga harus sahur bareng, ibu juga sudah masak kesukaan kamu, udah ayo cepat kita sahur sebelum imsak!" pinta lbu. "Iya bu, siap!" aku sangat gembira mendengarnya. Sontak aku langsung melahap masakan ibu yang tak ada duanya itu. "Rizki, makan harus pelan pelan.. lagi pula ayah lihat kamu belum baca niat puasa dan doa akan makan tadi!" pinta ayah sambil menggelengkan kepala. "Ehh iya yah.. sampai lupa, karena enak sekali sih makanannya, Bismillahirrahmanirrahim...Aamiin" ucapku. "Iya, memang masakan ibumu ini yang paling enak dan tak ada duanya, apalagi soal kecantikannya" kata ayah sambil terkekeh melihat tingkah ibu malu malu.

     Begitupun dengan ku, aku pun terkekeh sambil mencoba memuji ibu "iya yah, ibu ini memang yang terhebat, pahlawanku!" ucapku bersemangat. "Waduh, kok cuma ibu yang dibilang pahlawan? ayah juga dong, kan ayah juga yang mencari nafkah untuk kalian" pinta ayah kesal padaku. "Hiii, iya yah.. ayah juga pahlawanku" jawabku sambil menyeringai. "Tapi ini masakan ibu yang terenak, tak ada tandingannya" kata ayah pada ibu. "Ehh, apa sih, nggak kok, itu cuma masakan biasa" ucap lbu tersenyum malu malu.

     Ditengah-tengah pembicaraan dan gurauan kami, tiba tiba ayah berkata dengan wajah yang serius, aku dan lbu pun mendengar. "Rizki, dengar ayah... Ayah mau berpesan sama kamu," ungkap ayah dengan serius. "Iya yah, ada apa??" tanyaku bingung. "Kalau kamu udah besar nanti, kamu jangan sekali-kali melupakan kebersamaan kita ini, jangan lupa sama ayah dan ibumu yang sudah tua ini nak, karena kebersamaan ini adalah sesuatu yang paling berharga, ingat ya nak..." pinta ayah padaku dengan nada sedih. "Iya yah, ibu, aku akan selalu mengingat ayah dan ibu di manapun aku berada, dan aku akan membahagiakan kalian bila aku udah besar nanti." ucapku sembari tersenyum manis melihat mereka, mereka pun tersenyum juga melihatku. Dan memang kebersamaan ini adalah yang terindah.

sumber: pinterest.com

***

      Lamunan itu, lamunan yang selalu datang dikala Ramadhan tiba. Kala itu adalah saat yang paling berharga dalam hidupku, "Ayah benar, kebersamaan itu adalah hal yang paling berharga dan kenangan itu adalah yang terindah, saat ini aku tak bisa mendapatkannya lagi" ucapku sambil menangis tersedu-sedu. Hidup di tengah keramaian kota yang kejam, ditengah orang-orang yang acuh tak acuh, mementingkan dunia mereka masing-masing, membuatku ingin kembali ke duniaku yang dulu, dunia yang hanya dipenuhi dengan kegembiraan dan kesenangan, tapi sekarang hanya ada satu  teman yang menemaniku, yaitu kenangan pahit yang tak mungkin bisa aku ulang. Aku pun berteriak sekencang kencangnya! “Buat apa kepintaran dan keberhasilan ini ya Allah..." tangisku pun pecah tak terbendung disertai suara guntur yang menggelegar di langit. "Mungkin langit pun sedih melihatku tersiksa seperti ini" ucapku dalam hati. "Mengapa engkau gariskan takdir ku seperti ini ya Allah?? Aku sangat ingat, saat itu kau ambil Ayah, lalu lbuku, dan saat ini kau renggut kebahagiaanku, hidup dalam kesendirian, sepi, tak ada yang mau menemaniku, dalam dunia yang kejam tak mungkin ada sepucuk kebahagiaan!"

Di tengah lamunanku, tiba tiba...

"Sahuurr, sahuurrr,..."tok tik tok dor dor dor "Sahuurr, sahuurr, sahuurr..." lalu, "Rizki, Rizki, ayo bangun...ayo ikut kami keliling jalan untuk membangunkan sahur..." ucap seseorang sambil mengetuk pintu depan. "Iya, sebentar..." lalu aku berlari ke ruang tamu dan membukakan pintu. "Ada apa ya, ramai ramai...?" tanyaku. "Ini kan bulan Ramadhan, apa kamu mau ikut keliling bangunin orang untuk sahur? ya...buat nostalgia aja, ingat waktu  kecil dulu di kampung. "Ooh iya, sebentar ya!" jawabku seraya berjalan cepat ke kamar dengan riang gembira. Setelah itu aku keluar, "Ayo..!" ucapku. "Kamu tidak usah khawatir, kita ini kan teman, jadi kamu disini tidak sendiri, kami juga sama sepertimu, hidup dipenuhi kekecewaan dan kesuraman namun bila kita bersama maka kita akan mendapat kebahagiaan yang lain!" kata salah satu temanku. "Udah ayo..." ajak teman yang lain. Lalu kami pun berangkat, dipenuhi dengan kegembiraan yang selama ini tak pernah kuduga. "Ternyata, bukan hanya aku yang mendapat ketidakadilan, namun ada banyak orang yang sama sepertiku, bahkan ada yang lebih menderita dariku, hanya saja aku tidak mengetahui akan hal itu" ucapku dalam hati, sambil memandang mereka yang semangat bergerak di tengah penderitaan mereka. "Terima kasih ya Allah, engkau telah memberi kebahagiaan yang selama ini hamba dapatkan, hidup di tengah dunia yang kejam ini, ternyata terselip kebahagiaan yang Tuhan titipkan untukku, bukan kebahagiaan yang aku inginkan, namun ternyata lebih dari itu yang aku dapatkan, terima kasih ya Allah, engkau telah mengembalikan kebersamaan kecil ini!" pintaku dalam hati. Setelah itu aku berpikir, ternyata Tuhan selalu memberikan keadilan pada setiap makhluk ciptaannya, kita sebagai manusia mungkin tidak tahu, bahwa Tuhan memberikan kebahagiaan yang jauh lebih baik, daripada sesuatu yang kita angankan, kita mungkin hanya berpikir dalam satu sisi pandang, tak melihat ke sisi yang lain, Tuhan pasti memberikan kita sesuatu yang terbaik, walau terkadang apa yang diberikan Tuhan itu, berbeda dengan apa yang kita pikirkan, apa yang kita anggap baik, belum tentu baik dalam pandangan Tuhan, walaupun itu harus kita tempuh dengan berbagai rintangan dan cobaan, namun ingat! semua itu akan berakhir dan akan indah pada waktunya.

End -

***


Komentar