Langsung ke konten utama

Unggulan

Lukisan yang Bicara

  Lukisan yang Bicara @alimmhmmdd *** di kanvas sunyi kuhamparkan aksa, jejak langkah dari luka yang tak bersuara, warna-warna bukan sekadar rupa, tapi gema dari jiwa yang belajar percaya. kehidupan kini tak lagi serupa kabut, meski badai masih mengetuk palung kalbu, aku temukan lentera di balik ribut, pada diam yang kini tak lagi semu. kutanggalkan rencana yang mengurung dada, tak lagi kubiarkan omongan jadi nadi, aku, sebuah puisi yang sedang mengeja makna, berlari pelan menuju versi diri yang hakiki. bila masalah datang mengetuk lara, aku tak lagi mencari pintu besar nan megah, tapi celah sempit yang dipahat oleh asa, jalan keluar yang kulukis dari resah jadi megah. ***

Seni Mencintai Diri Sendiri

Seni Mencintai Diri Sendiri 

Surabaya, 15 Januari 2023 17:23 WIB


Seni Mencintai Diri Sendiri - Apakah kalian tau apa itu seni mencintai diri sendiri? Apakah penting kita mencintai diri kita sendiri? Lalu bagaimana caranya untuk bisa mencintai diri kita sendiri?. Banyak yang bilang bahwa orang yang mencintai diri sendiri itu egois, hanya mengutamakan kepentingannya sendiri tanpa memperdulikan orang lain. Banyak yang bilang juga kalau orang yang terlalu mencintai  dirinya sendiri tidak bisa hidup sederhana sebab terlalu memanjakan diri tanpa berpikir apa yang terjadi setelahnya. Perlu diperhatikan bahwa kalimat mencintai diri sendiri dengan mementingkan diri sendiri merupakan hal yang berbeda. Dalam konteks ini mencintai diri sendiri bukan berarti individualis dan tidak memperhatikan orang lain. Perlu digaris bawahi bahwasanya mencintai diri sendiri merupakan bentuk apresiasi terhadap diri kita atas apa yang sudah dicapai dan usahakan sampai detik ini. Di samping itu, sudah pasti diantara kita mengalami kegagalan di setiap usaha. Mungkin kalian sudah bosan mendengar kalimat yang terlontar dari motivator bahwa “kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda”. 

Lalu pertanyaannya, sampai kapan kemenangan itu akan tertunda, tertunda sampai kapan?. Mungkin sebagian orang pernah membandingkan diri sendiri dengan orang lain atas apa yang mereka capai. Banyak kalimat yang keluar dari hati maupun lisan kita, “mengapa dia selalu menang, mengapa sih dia itu tampan dan kaya, kenapa ya dia sudah cantik pintar dan orang tuanya kaya, sedangkan aku?. Bahkan untuk memenangkan suatu kontes musik tingkat kecamatan aja nggak pernah menang atau hanya sebatas tingkat desa. Kenapa dia yang selalu menang, kenapa, kenapa dan mengapa Tuhan?”. Banyak sekali kenapa dan mengapa diri ini tidak bisa sehebat dan seberuntung mereka. Namun, jika kalian sering atau pernah menonton video motivasi, banyak dari motivator yang bilang “jangan pernah membandingkan diri sendiri dan fokuslah pada kelebihanmu niscaya akan sukses dikemudian hari”. Sangat sering kalimat itu terlontar dengan mudahnya tanpa memikirkan realita yang ada. Kenapa saya bicara begitu? biar saya beri contoh.

Bagaimana fungsi kalimat tersebut dengan keadaan para pengemis berumur senja dengan badan renta dan setia duduk di tepi jalan dengan mangkok di tangannya. Bagimana mereka bisa, tidak membandingkan diri dengan orang lain yang hidup di usia tua dengan layak sembari menikmati harta yang sudah mereka raih ketika masa muda. Mungkin usaha mereka sama namun jika kita memandang dari sudut lain, Keadaan kedua manusia tersebut berbeda, mungkin yang satu lahir dengan keadaan sudah mapan sedangkan yang satunya lahir di tengah keluarga yang sangat memprihatinkan, bahkan ada yang baru lahir namun sudah merasakan pahitnya hidup di gendongan ibu sembari duduk di halte menanti para dermawan memberikan kepingan uang receh. Sangat kontras bukan perbedaanya bagi kedua golongan yang sudah saya sebutkan tadi. Mungkin ada yang suka bermimpi bahkan iri dengan keadaan mereka di kelilingi dengan harta, tetapi ada juga yang merasa cukup dengan keadaan yang diberikan Tuhan saat ini. Namun bolehkah kita berucap “kenapa dan mengapa? jawabannya iya, tentu saja boleh”. Takkan ada yang melarang seseorang mengucapkan hal tersebut, namun perlu diingat bahwasannya ketetapan Tuhan tidak pernah salah terhadap hambanya yang taat ajaran agama dan rasa kemanusiaan terhadap sesama. 

Mungkin Tuhan bersedih jika ada hambanya menolak dengan mentah-mentah akan ketetapannya yang mulia. “Ya namanya juga manusia pasti merasa tidak cukup dengan segala kebutuhan yang sudah diraihnya”. Memang benar akan hal itu, namun jika kita mengulik lebih dalam, kita bisa mengambil hal positifnya. Tuhan menciptakan rasa tidak puas untuk manusia supaya kita bisa terus berusaha dengan maksimal untuk mendapatkan sesuatu, namun perlu diingat usaha saja tidak akan pernah cukup, pastinya dengan mengaitkan Tuhan untuk membantu mengabulkan cerita indah itu. Banyak juga yang merasakan akan keadaan dimana kegagalan sudah seperti saudara, ya saudara bukan lagi teman atau sahabat tetapi saudara yang sudah sangat erat dengan kehidupan yang kita jalani saat ini. Setiap hari bahkan setiap apa yang dilakukan merupakan momen paling buruk dan memalukan. Namun, berlian akan terlihat indah jika dikelilingi oleh batu yang jelek ya kan. Sebuah berlian akan terlihat biasa saja jika dikumpulkan dengan berlian yang setara dengan kemewahannya dan mungkin yang lebih bagus kualitasnya. Memang kita tidak pernah berpikir bahwa kita adalah berlian tersebut. Acap kali kita berpikir bahwasanya kita hanya sebuah batu tak berharga yang tersapu ombak dan terbawa arus. Hanyalah sebuah batu yang terombang ambing di laut lepas tidak berguna jika tertangkap nelayan. Namun jika batu tersebut terdampar di sebuah pulau dengan pasir putih elok kita akan tahu ada segelintir orang mencari batu itu hanya untuk sebuah rumah pasir yang ia buat. Sebuah hiasan akan tetap cantik bukan meski hanya untuk sebuah istana pasir di tepi pantai.

Namun apa hubungannya sebuah batu, sebuah berlian, dengan tema kita mengenai pentingnya mencintai diri sendiri?. Jika kita berpikir tentang arti  “sebuah berlian akan tetap cantik meskipun berada di tengah gurun pasir gersang”. Adakalanya berlian itu gagal untuk menyilaukan pengunjung akan keindahannya. Itulah perumpamaan mengenai kegagalan kita yang tragis. Kalian mungkin bertanya, mengapa dari atas sampai kalimat ini selalu mengulik masalah kegagalan, karena memang pada dasarnya faktor dari seseorang gagal mencintai dirinya sendiri yaitu ketika ia merasa gagal disemua hal kemudian berimbas menyalahkan diri sendiri.  Lalu, bagaimana cara kita untuk mencintai diri kita sendiri. “Apakah dengan memanjakan diri dan tidak memperdulikan orang lain disekitar kita?” Jawabannya tentu tidak. Mungkin sangat beragam menurut pemikiran orang satu dengan lainnya. Namun konteks ini, saya akan menjelaskan bagimana cara mencintai diri sendiri dengan sudut pandang yang universal. Langkah awal, kita harus mencari tahu apa yang membuat kita cape, yang membuat kita lelah secara fisik maupun batin. Jika itu pekerjaan, mungkin sesekali meminta cuti kepada perusahaan dan fokus melakukan hal hal yang disukai misalkan pergi ke mall, nonton film, berkumpul bersama keluarga. Alasan lain, karena teman atau circle kita yang toxic. Banyak motivator yang menjelaskan hal tersebut, mengenai bagimana cara keluar dari circle dan lingkungan yang toxic. Caranya bukan dengan langsung meninggalkan circle tersebut tanpa alasan jelas, namun dengan tidak mengikuti hal negatif yang bisa merusak mental kita sehingga secara perlahan akan terpisah dengan sendirinya dari lingkungan toxic tersebut. Di samping itu semua ada alasan lain yaitu karena keluarga atau orang tua. Tidak mungkin kita meninggalkan lingkungan keluarga apalagi orang tua. 

Memang ada sebagian dari mereka salah dalam mendidik anaknya. Pada sejatinya para orang tua sangatlah peduli akan diri kita sebagai buah hati. Tidak ada orang tua yang ingin anaknya terluka. Tetapi ada juga sebgaian orang tua tidak mau memperdulikan anaknya, tidak memberi rasa sayang pada anaknya. Lalu bagaimana solusi masalah tersebut. Jawabannya cuma satu, rayu Tuhanmu dan semua akan baik-baik saja. Kunci dari kesenangan dunia hanyalah pada Tuhan yang mempunyai peranan penting atas dirimu. Hanya Tuhan yang sanggup membuka hati mereka supaya bisa menerima kita sebagai anaknya. Kembalilah dan bersujudlah pada Tuhanmu. Ia sedang menunggumu datang, sembari mencurahkan keluh kesah yang kamu pendam selama ini seorang diri. Pergi tanpa tau arah tujuan, jalan-jalan sendiri menikmati me time atau hanya sekadar membaca buku sembari mendengarkan musik, atau menonton film kesukaan. Hal-hal sederhana bisa membuat pikiran kita kalut akan atensi dunia yang merajalela. Tak perlu mahal untuk menenangkan diri, tak perlu pergi jauh untuk meninggalkan masalah yang ada. Hanya dengan melakukan hal-hal yang disukai bisa dengan sejenak untuk mengistirahatkan pikiran dari hiruk pikuk dunia. Mungkin dengan secangkir teh atau kopi sembari memandang jalanan kota yang ramai dari jendela kamar bisa menikmati indahnya hidup.


baca juga : Cerpen | Ramadhanku Kembali Bersinar


Di samping itu semua, kita sebagai manusia mungkin perlu merasakan istirahat. Sejenak melupakan masalah yang dihadapi. Saya rasa sudah cukup pembahasan kita kali ini meskipun belum bisa menjawab beberapa pertanyaan kalian seperti: “seberapa sering kalian menyalahkan diri sendiri atas  kegagalan yang terjadi? seberapa sering kalian bertengkar dengan teman, sahabat, pacar, atau keluarga hanya untuk menyalahkan mereka? seberapa sering air mata dan keluh kesah kalian terlontar kepada Tuhan hanya karena Tuhan tidak mendengar permintaan kalian?” Hei, ingat Tuhan itu tidak buta dan tidak tidur, Ia sangat tau mengenai hambanya yang taat akan ajarannya. Ia akan mengabulkan jika itu baik untukmu. Untuk itu, mulai sekarang stop untuk menyalahkan diri sendiri maupun orang lain, rehatlah sejenak dan jangan lupa tersenyum untuk setiap pencapaian yang sudah kita raih selama ini apapun itu, kemenangan, keberhasilan, maupun kegagalan. Tetaplah bernapas untuk hidup yang lebih indah kedepannya menuju hidup dengan mencintai diri sendiri.

Terima kasih dan sampai jumpa kembali.


 

 

Komentar

Postingan Populer